Diduga Rasis, Cathlyn Yvaeni Lesmana Dicoret Dari Paskibraka

MAKASAR – Akun resmi Duta Pancasila Paskibraka Indonesia (DPPI) Kota Makassar mengunggah pernyataan tertulis yang diduga bentuk respons terhadap proses seleksi Paskibraka di tingkat Pemprov Sulsel.

Lewat akun instagram @dppikotamakassar ditulis, sebagai Duta Pancasila, kami senantiasa teguh dan konsisten dalam mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila di setiap waktu dan dalam setiap lingkungan pengabdian.

Segala bentuk diskriminasi dan rasisme merupakan tindakan yang bertentangan dengan prinsip kemanusiaan, persatuan, serta keadilan yang menjadi fondasi bangsa Indonesia.

Oleh sebab itu, perilaku demikian tidak boleh diberi ruang untuk tumbuh maupun berkembang, khususnya dalam lingkungan “Pembentukan Paskibraka” yang menjunjung tinggi integritas, persaudaraan, dan semangat kebhinekaan.

“Salam Pancasila! Salam DPPI SMART!” tulis akun tersebut

Unggahan tulisan itu diduga reaksi atas keputusan panitia seleksi Paskibraka tingkat Pemprov Sulsel.

Proses seleksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) di Sulawesi Selatan menjadi sorotan publik.

Hal itu menyusul dianulirnya Cathlyn Yvaeni Lesmana, anggota Paskibra asal Kota Makassar, sebagai calon Paskibraka tingkat pusat.

Siswi SMA Cerdas Bangsa tersebut disebut dicoret dan posisinya digantikan oleh siswi SMAN 1 Jeneponto, Keisha Ratu Utami.

Di media sosial, muncul berbagai spekulasi terkait alasan pergantian tersebut. Termasuk isu bahwa Cathlyn satu-satunya peserta Tionghoa dan dianggap tidak mampu berbahasa daerah.

Cathlyn sebelumnya diusulkan Pemerintah Kota Makassar bersama lima peserta lainnya.

Mereka terdiri atas tiga putra dan tiga putri, yakni Gaishan Putra Asrul dari SMAN 2 Makassar, Abdul Rahim Ramadhan dari SMAN 21 Makassar, Muhammad Farid Alfarabi dari SMAN 5 Makassar, Meivylicha Putri Aurelia Kamal dari SMAN 3 Makassar, serta Putri Maharani dari SMAN 2 Makassar.

Dalam tahapan seleksi, Cathlyn mencatat nilai yang cukup tinggi.

Pada tes Wawasan Kebangsaan (PWK), ia memperoleh nilai sempurna 100, sementara Tes Intelegensi Umum (TIU) mencapai 95. Namun, hasil itu belum cukup mengantarkannya menjadi wakil Sulsel ke tingkat nasional.

Pergantian tersebut kemudian memicu perbincangan di media sosial. Sebab, peserta pengganti disebut tidak berada dalam daftar 10 besar hasil seleksi.

Menanggapi polemik yang berkembang, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Sulawesi Selatan, Bustanul menegaskan seluruh proses seleksi berjalan sesuai ketentuan.

Ia membantah adanya titipan maupun diskriminasi dalam penentuan peserta.

“Dari awal kami pastikan pelaksanaan seleksi utusan kabupaten/kota ke provinsi berjalan objektif dan transparan. Tidak ada titipan, apalagi diskriminasi rasial,” ujarnya, Senin, 25 Mei 2026.

Menurut Bustanul, penentuan peserta yang mewakili Sulsel ke tingkat nasional bukan hanya berdasarkan nilai PWK dan TIU.

Seleksi juga mempertimbangkan sejumlah aspek lain, seperti kesamaptaan, peraturan baris-berbaris (PBB), keterampilan, hingga kepribadian peserta.

Ia menjelaskan, proses penilaian dilakukan langsung oleh tim seleksi pusat yang terdiri atas unsur Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), DPPI Pusat, TNI, Polri, hingga Sekretariat Militer Presiden (Setmilpres).

Bustanul juga menyinggung isu etnis yang belakangan ikut dikaitkan dalam polemik tersebut. Menurut dia, persoalan itu seharusnya tidak diarahkan pada latar belakang suku maupun etnis peserta.

“Yang agak lucu kenapa yang dipersoalkan adalah utusan kota Makassar yang kebetulan etnis Tionghoa. Padahal Kota Makassar mengirim tiga utusan putri, dan dari hasil seleksi utusan putri dari Makassar, utusan yang lain lebih tinggi (nilainya) dari utusan dimaksud (Cathlyn), harusnya yg lebih tinggi nilainya itu yg diperjuangkan” ucapnya.

Ia pun membantah menganulir atau mengganti secara sepihak peserta tersebut.

“Tidak ada menganulir sepihak atau penggantian. Logikanya kalau ada anggapan menganulir pengumuman atau ada penggantian, harusnya ada pengumuman awal dan diganti dengan pengumuman baru. Tunjukkan ke saya mana pengumuman yang dianulir atau diganti tersebut,” tambahnya.

Meski batal berangkat ke tingkat pusat, Cathlyn disebut tetap akan bertugas sebagai anggota Paskibraka di tingkat Provinsi Sulawesi Selatan.

“Iya, akan bertugas di tingkat Provinsi,” ucap Bustanul.(*)

#Cathlyn Yvaeni Lesmana#Makasar#Paskibraka