PAKISTAN – Delegasi tingkat tinggi dari Republik Islam Iran dan Amerika Setikat telah tiba di Pakistan untuk memulai perundingan intensif guna meredakan ketegangan yang semakin memanas di Timur Tengah.
Pertemuan yang berlangsung di Islamabad ini menjadi sorotan dunia karena dilakukan di tengah ancaman kegagalan gencatan senjata akibat eskalasi militer yang terus berlanjut.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, bersama Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, mendarat di Pangkalan Udara Nur Khan, Rawalpindi, Pakistan.
Kedatangan mereka disambut oleh jajaran pejabat tinggi Pakistan, termasuk Menteri Luar Negeri Ishaq Dar, Ketua Majelis Nasional Sardar Ayaz Sadiq, dan Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Marsekal Lapangan Asim Munir.
Di pihak lain, Amerika Serikat mengirimkan delegasi yakni Wakil Presiden JD Vance serta penasihat senior Jared Kushner. Keterlibatan tokoh-tokoh utama ini menunjukkan urgensi dari proses negosiasi yang sedang berlangsung di ibu kota Pakistan tersebut.
Meski bersedia duduk di meja perundingan, pihak Iran memberikan prasyarat yang tegas. Mohammad Baqer Qalibaf menyatakan bahwa diskusi hanya akan membuahkan hasil jika Israel melakukan gencatan senjata di Lebanon dan adanya pembebasan aset-aset Iran yang selama ini diblokir.
Namun, proses ini menghadapi hambatan besar di lapangan. Serangan Israel di wilayah perbatasan Lebanon Selatan dan kawasan strategis Selat Hormuz dilaporkan menjadi faktor utama yang menghambat tercapainya kesepakatan permanen antara Washington dan Teheran.
Berdasarkan laporan langsung dari Teheran, aktivitas masyarakat di ibu kota Iran tersebut terpantau masih berjalan normal. Kemacetan mulai terlihat di pusat kota dan perkantoran kembali aktif setelah libur nasional. Sementara itu aktivitas belajar mengajar masih dialihkan ke sistem pembelajaran daring (online).
Namun, di balik normalitas tersebut, semangat perlawanan tetap membara. Warga Teheran dilaporkan masih menggelar pawai dukungan menjelang subuh sebagai bentuk solidaritas.
Pihak militer Iran melalui Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menegaskan telah bersiap menghadapi skenario terburuk jika perundingan menemui jalan buntu. Jika terjadi pelanggaran gencatan senjata atau ketidaksepakatan, Iran mengancam akan meluncurkan serangan balasan yang diklaim jauh lebih dahsyat dari sebelumnya.
Kesiapan ini tidak hanya datang dari militer, tetapi juga dari warga sipil. Data terbaru menyebutkan bahwa lebih dari 17 juta warga sipil Iran telah mendaftar sebagai relawan perang sebagai antisipasi jika konflik di Timur Tengah meluas menjadi perang terbuka.(***)