MEDAN – Pengamat Ekonomi Sumatra Utara (sumut), Gunawan Benjamin, mengingatkan adanya potensi ledakan harga pangan di tengah kondisi perang global yang masih berkecamuk.
“Kenaikan harga plastik yang saat ini dikeluhkan pelaku usaha bisa menjadi pemicu lanjutan kenaikan harga pangan,” ujar Gunawan, Jumat, 10 April 2026.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, harga plastik mengalami kenaikan cukup signifikan dengan variasi antara 12,5 persen hingga 77 persen, khususnya untuk plastik kemasan yang banyak digunakan pelaku usaha.
Kondisi ini dikeluhkan mulai dari pelaku UMKM hingga industri besar. Kenaikan harga plastik dinilai turut mendorong naiknya harga pokok produksi (HPP), termasuk pada komoditas pangan seperti minyak goreng.
“Selain bahan baku seperti CPO yang naik, komponen kemasan juga ikut menekan biaya produksi,” ucap Gunawan.
Gunawan menambahkan, perang turut memicu kenaikan harga plastik secara global dan berpotensi menciptakan tekanan lanjutan terhadap harga pangan jika tidak diantisipasi.
Ia menjelaskan, saat ini sejumlah komoditas pangan seperti cabai, bawang, dan beras masih relatif stabil. Namun kondisi tersebut dinilai rentan berubah.
“Jika perang terus berlarut, kenaikan harga bahan baku dan logistik akan memicu kenaikan harga pangan secara bertahap,” katanya, dilansir dari rri.com.
Selain faktor global, ia menilai siklus pasokan juga menjadi faktor penting. Pergantian masa panen berpotensi menurunkan pasokan dan memicu kenaikan harga, terutama pada komoditas seperti cabai dan bawang.
Di sisi lain, komoditas protein seperti daging sapi, ayam potong, dan telur juga berisiko mengalami kenaikan harga akibat mahalnya bahan baku impor serta tekanan nilai tukar Rupiah.
Faktor lain yang perlu diwaspadai adalah cuaca ekstrem seperti El Nino yang dapat mengganggu produksi pangan, serta keterbatasan modal petani akibat harga jual yang rendah.
Menurutnya, sektor akomodasi makanan dan minuman juga berpotensi mempercepat kenaikan harga. Kondisi tersebut bisa semakin memburuk jika terjadi penyesuaian harga BBM atau pengurangan subsidi pemerintah.
“Pemerintah perlu segera menyiapkan langkah mitigasi untuk menahan potensi lonjakan harga pangan, karena situasi perang saat ini masih penuh ketidakpastian,” ucap Gunawan.(red)
